Pemeringkatan Bidang Kemahasiswaan Tahun 2020

Nomor : 507 /E2/TU/2020 22 April 2020
Lampiran : 1 (Satu) Berkas
Hal : Pemeringkatan Bidang Kemahasiswaan Tahun 2020

Yth. Pimpinan Perguruan Tinggi

Dalam rangka peningkatan kualitas Perguruan Tinggi dan upaya pelaksanaan Pemeringkatan Bidang Kemahasiswaan Perguruan Tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020, dengan hormat kami sampaikan agar Pimpinan Perguruan Tinggi dapat melaporkan kegiatan bidang kemahasiswaan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Pelaporan dilakukan oleh operator perguruan tinggi melalui laman: http://simkatmawa.kemdikbud.go.id secara daring. Perguruan tinggi yang belum memperoleh akun Simkatmawa dapat mengisikan formulir registrasi dan mengunggah pindaian isian formulir terlampir;
2. Kegiatan yang dilaporkan adalah kegiatan kemahasiswaan (Institusi, Non Lomba, dan Prestasi Kemahasiswaan) yang dilaksanakan secara mandiri oleh perguruan tinggi periode 1 Januari s.d. 31 Desember Tahun 2019;
3. Kegiatan kemahasiswaan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Direktorat Kemahasiswaan, Ditjen Belmawa) akan dihitung sesuai dengan prestasi perguruan tinggi yang diraih dan tidak perlu dilaporkan;
4. Periode pelaporan kegiatan kemahasiswaan dimulai dari tanggal 27 April s.d. 24 Juli 2020; dan
5. Dokumen yang dilaporkan harus sesuai dengan ketentuan dalam panduan.

Berkaitan dengan hal tersebut, dengan ini kami mohon kepada Bapak/Ibu Pimpinan Perguruan Tinggi untuk dapat menindaklanjuti pelaksanaan pelaporan bidang kemahasiswaan agar terlaksananya program pemeringkatan kemahasiswaan tahun 2020.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerja sama yang baik disampaikan terima kasih.

Direktur Pembelajaran dan
Kemahasiswaan

TTD

Aris Junaidi
NIP 196306041989031022

Tembusan:
Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

sumber: http://dikti.kemdikbud.go.id/pengumuman/pemeringkatan-bidang-kemahasiswaan-tahun-2020/
Read More

Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di Perguruan Tinggi

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan beberapa antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dalam pencegahan infeksi Covid-19, dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Surat Edaran ini berisi 12 hal yang harus diperhatikan perguruan tinggi di dalam melakukan pencegahan infeksi Covid-19 di lingkungan perguruan tinggi antara lain himbauan Perilaku Hidup Sehat, pelaksanaan protokol kesehatan, pembelajaran jarak jauh dan penyesuaian kegiatan perguruan tinggi.

Read More

APTIK di Masa Pandemik Covid-19

Dalam rangka berperan serta di dalam menghadapi Pandemik Covid-19, APTIK bersama dengan anggotanya berpartisipasi dan turut berkontribusi secara nasional bersama dengan elemen dan ormas katolik lainnya di dalam koordinasi bersama Kantor Waligereja Indonesia (KWI), Kantor Staf Presiden (KSP) dan Gugus Tugas Percepatan Melawan  Covid-19, dalam gerakan Jaringan Katolik Melawan Covid-19 (JKMC-19).

Jaringan Katolik Melawan COVID-19 (JKMC-19) adalah sebuah inisiatif yang berawal dari keprihatinan atas situasi saat ini yang mendorong relawan dari berbagai profesi: medis, guru, dosen, pengusaha, imam, biarawan, biarawati untuk melakukan gerakan kongkrit di berbagai bidang dengan tujuan membantu masyarakat di bawah koordinasi pemerintah dalam rangka menanggulangi pandemik COVID-19 di Indonesia. Relawan yang tergabung dalam jaringan ini merupakan gabungan berbagai elemen katolik: ormas, rumah sakit, universitas, sekolah, relawan, pengusaha dan awam.

APTIK melalui jaringan anggotanya baik di seluruh Indonesia, baik Universitas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dengan Jaringan Rumah Sakitnya berperan serta di dalam kolaborasi bersama ini, baik saling berbagi informasi, sumber daya, donasi dan penyaluran alat-alat kesehatan, serta kegiatan-kegiatan lainnya seperti yang dibuat beberapa anggota APTIK yang membentuk jaringan layanan psikologi secara online.

Selain itu perguruan tinggi APTIK di masa pandemik ini masing-masing secara kreatif dan proaktif menyelenggarakan pembelajaran online dan juga menggerakkan mahasiswa untuk berpartisipasi aktif berkontribusi kepada masyarakat terutama kelompok rentan serta juga kepada tenaga-tenaga kesehatan di garis depan. Krisis kesehatan global ini tentunya juga memberi dampak pada proses pembelajaran, dan perguruan tinggi APTIK dengan cepat bisa beradaptasi melalui pembelajaran online, baik para dosen, mahasiswa dan juga pimpinan perguruan tinggi. Kemauan untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu nampak nyata di dalam semangat semua pihak untuk mau berubah dan bersemangat walau situasi dan seringkali sumber daya nampak terbatas.

Berita terkait aktivitas perguruan tinggi APTIK bisa disimak dalam berita di website ini.

Read More

Susunan Pengurus APTIK 2020-2023

Berikut ini adalah Susunan Pengawas dan Pengurus APTIK masa bakti 2020-2023 yang telah ditetapkan dalam Kongres APTIK ke-37 di Madiun

Pengawas

  1. Drs. Aloysius Teddy S. Widjojo, M.M.
  2. Basilius Hendra Kimawan, OSC
  3. Dr. Alb. Budi Susanto, SJ
  4. Drs. Sutarjo Surjoseputro, M.S.
  5. Dr. Al. Agus Suryono, M.M.

 

Pengurus

Ketua : Prof. Dr. B.S. Kusbiantoro
Wakil Ketua : Yulius Yasinto, SVD, M.A., M.Sc.
Sekretaris : Drs. Kasdin Sihotang, M.Hum.
Bendahara : Dra. Thio Anastasia Petronila, Ak., M.M., CPMA, C.A.
Anggota : 1. Ir. Augusta Lianawati, SSpS
2. Dr. Yap Fu Lan
3. Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ
Read More

21 Dosen Tulis Refleksi Pembelajaran Daring di Masa Darurat

SEMARANG – Civitas Academica Unika Soegijapranata meluncurkan buku 21 Refleksi Pembelajaran Daring di Masa Darurat yang ditulis oleh 21 dosen dalam 21 hari, juga secara daring, Senin (13/4). Tulisan para dosen itu terkait mode pembelajaran daring yang mereka lakukan sejak kampus memberlakukan kebijakan membatasi pertemuan guna memotong rantai penyebaran Covid-19.

Rektor Unika Soegijapranata, Prof Ridwan Sanjaya MS IEC mengatakan para penulis buku itu terdiri atas dosen junior maupun senior, dosen tetap maupun tidak tetap, serta generasi baby boomer sampai dengan Gen-Y dari berbagai fakultas di kampusnya. Dari sisi infrastruktur dan sistem penjaminan mutu pembelajaran daring Prof Ridwan mengatakan di Unika Soegijapranata terbilang siap.

Namun perbedaan generasi, kebiasaan, dan bidang keilmuan, menjadikan refleksi masing-masing dosen bisa berbeda satu sama lain. Motivasi, strategi, dan kontemplasi atas aktivitas pembelajaran daring disebut Prof Ridwan menjadi output dari ke-21 refleksi tersebut. “Bukan hanya soal kemampuannya memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran daring, tetapi juga refleksi akan nilai-nilai kemanusiaan yang dicoba untuk di Isersikan ke dalam pembelajaran daring. Selain itu juga praktik integritas yang mungkin sulit dilakukan dalam kondisi darurat, usaha-usaha untuk tampil prima dalam kondisi darurat, maupun strategi-strategi yang disusun berdasarkan keilmuan masing-masing dosen dalam menjalankan pembelajaran daring,” papar Prof Ridwan.

Semua refleksi tersebut juga dikatakan sekaligus menggambarkan seberapa besar kecintaan dosen dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Lalu juga disebut Prof Ridwan sebagai orangtua bagi mahasiswanya di kampus, maupun tauggung jawabnya sebagai pendidik professional kepada stakeholder.

“Melalui ke-21 tulisan ini semoga dapat menjadi bahan literasi maupun refleksi dalam menjalankan peran kita masing-masing ketika kondisi darurat menghadang. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi bahan bacaan bagi semua pihak untuk melihat kembali pergulatan batin dosen-dosen semasa Kondisi Luar Biasa (KLB) Covid-19 menerjang Indonesia,” tandas Prof Ridwan.

►Suara Merdeka 14 April 2020 hal 10

Read More

Bijak mengelola keuangan di masa pandemic COVID 19

Pandemi virus corona (Covid-19) saat ini telah menjadi sumber kecemasan dunia termasuk juga Indonesia. Akibatnya, kebiasaan dan kegiatan sehari-hari masyarakat menjadi berubah.  Himbauan untu menjaga jarak aman (physical distancing), tetap di rumah (kebijakan belajar di rumah dan belajar di rumah) dilakukan oleh pemerintah untuk menekan penyebaran virus yang sangat cepat.  Banyak pelaku bisnis merasakan dampaknya: pengurangan tunjangan, gaji bahkan sampai PHK karena penutupan berbagai bentuk usaha bisnis yang akhirnya menimbulkan berbagai persoalan baru di masyarakat.

Pendapatan yang berkurang bahkan hilangnya pendapatan, harga beberapa jenis barang yang melambung tinggi seperti masker, vitamin, hand sanitizer, bawang Bombay, menyebabkan kita harus mulai mengatur kembali kondisi keuangan keluarga. Kaprodi Manajemen Unika Atma Jaya Dr.Christiana Fara Dharmastuti membagikan pandanganya untuk membantu kita menglola keuangan.  Berikut adalah saran beliau:

1.   Jangan Panik
Pasar keuangan yang menurun seringkali menimbulkan reaksi berlebihan seperti menarik investasi, mencairkan deposito, dan menjual saham. Dana investasi adalah dana yang tidak diperlukan dalam waktu dekat. Sehingga, jika tidak mendesak lebih baik dipertahankan. Pembelian barang dalam jumlah berlebihan (panic buying), seringkali dilakukan di keadaan tidak mendesak dan bahkan menyebabkan harga barang menjadi lebih mahal. Dengan panic buying, dana kas yang sebetulnya dapat digunakan untuk cadangan dalam masa sulit menjadi terpakai atau bahkan menimbulkan tagihan di kartu kredit.

2.    Dana Cadangan
Kondisi seperti saat ini merupakan saat yang tepat untuk melihat apakah kita memiliki dana darurat (dana cadangan), dan dimana dana tersebut kita simpan. Meskipun kita tidak mengharapkan bahwa dana itu akan digunakan, namun ada baiknya kita memiliki uang tunai yang cukup untuk cadangan biaya hidup beberapa bulan kedepan.

3.   Revisi Anggaran rumah tangga
Anggaran rumah tangga perlu dievaluasi kembali, dengan memperhatikan dan mengalihkan pengeluaran-pengeluaran yang biasanya terjadi. Anggaran utama difokuskan pada pengeluaran kebutuhan sehari-hari, sedangkan pengeluaran untuk makan keluar, hiburan, bersosialisasi dan transportasi dapat dialihkan ke dana cadangan atau investasi. Saat ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk mulai berhemat, meningkatkan dana cadangan serta mengevaluasi antara kebutuhan dan keinginan.

Dengan adanya kebijakan untuk tetap tinggal di rumah, metode berbelanja online baik digunakan untuk menghindari kontak langsung di pasar dan toko. Namun seringkali mendorong untuk berbelanja  barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Oleh karena itu, kita perlu disiplin menentukan barang yang kita butuhkan. Dengan demikian dapat mengurangi kemungkinan kekurangan dana maupun penggunaan utang.

4.   Bijak terhadap pinjaman
Pinjaman yang sudah terjadi perlu dikaji, bagaimana pembayaran dan bunganya. Jika dirasakan sulit maka perlu upaya; misalnya memohon untuk penghapusan biaya bunga atau penundaan angsuran. Pengajuan pinjaman perlu dipertimbangkan secara matang. Hindari menggunakan pinjaman melalui kartu kredit maupun dari lembaga lain yang memberikan pinjaman dengan bunga kredit tinggi atau perhitungan bunga harian.

Sebentar lagi saudara-saudara kita juga akan memasuki masa bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Lebaran.  Di masa seperti ini tentunya banyak hal juga disesuaikan, apalagi kemungkinan mendapatkan bonus dan tunjangan hari raya (THR) semakin kecil.  Walaupun berat tapi memang perlu dilakukan perubahan rencana keuangan.  Kebijakan untuk tetap tinggal dirumah dapat dimanfaatkan dan diambil sisi positifnya, yaitu untuk menghemat beberapa hal seperti; pengeluaran untuk mudik, membeli makana dan minuman untuk menjamu tamu, pembelian pakaian baru, maupun wisata keluarga. Penghematan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan atau menambah dana cadangan darurat.

“ Yang penting adalah menghindari rasa panik dan tetap berpikir rasional.  Rasa panik dapat mendorong untuk berpikir irasional, yang akan menyebabkan pengambilan keputusan keuangan yang buruk” ujar Bu Fara dalam menutup wawancaranya.

 

Read More

Fakultas Kedokteran Unika Beri Pelatihan Garda Terdepan

Dekan Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata, dr. Indra Adi Susianto, M.Si.Med, Sp.OG saat menyampaikan materi pelatihan

Pandemi COVID-19 berimbas pada peningkatan kebutuhan Alat Pelindung Diri ( APD). Kejadian yang tidak terprediksi ini menyebabkan seluruh dunia mengalami krisis, dimana petugas kesehatan kekurangan APD. Kondisi tersebut menyebabkan tenaga medis harus menggunakan APD seadanya saat menangani pasien sehingga kualitas pelayanan kesehatan tidak seperti sebelum pandemi.

Pahlawan kesehatan mengorbankan jiwa raganya dan berguguran dalam menangani lonjakan jumlah pasien sebagai dampak pandemi.  Hal ini cukup membuat hati terluka karena jumlah pahlawan kesehatan masih kurang dan belum terdistribusi merata di seluruh Indonesia. Menjaga dan menjamin keselamatan kerja pahlawan kesehatan merupakan suatu prioritas di Indonesia.

Berdasarkan informasi tersebut Fakultas Kedokteran Soegijapranata membentuk Tim FK Unika Peduli  pada tanggal 29 Maret 2020 yang tergerak untuk membantu kebutuhan vital  petugas medis di garda terdepan dengan pemberian APD serta melakukan berbagai pelatihan pemakaian APD agar tetap maksimal dalam melayani pasien ditengah pandemi.

Tim FK Unika Peduli dengan bantuan para dermawan sebagai donator telah melakukan distribusi APD berupa 500 coverall (baju pelindung), face shield (pelindung wajah), vitamin dan hand sanitizer yang  diproduksi secara bertahap dan lolos uji coba agar efektif untuk pencegahan infeksi.

Distribusi APD ditujukan ke 37 puskesmas di Kota Semarang. Penetapan distribusi ini mempertimbangkan agar kinerja puskesmas sebagai garda terdepan dalam pemberi pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif tetap maksimal dimasa pandemic dan akan terus akan didistribuskan lebih luas ke beberapa wilayah DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan Terluar) dimana ketersediaan APD sangat minimal.

FK Unika Peduli tidak henti melakukan pengabdian yang merupakan tridarma perguruan tinggi yaitu membangun jiwa sosial dan kreatifitas dengan  mengorganisir koordinator lapangan, donatur, distribusi bantuan dan sebagainya.

FK UNIKA Soegijapranata mendidik para mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk belajar untuk mengetahui kebutuhan lapangan menjadi inisiator dalam memberikan bantuan, meningkatkan status kesehatan masyarakat dan menyadarkan bahwa pandemi ini bisa teratasi dengan kerjsama semua pihak.

Oleh : dr. Jessica Christanti, M.Kes, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Soegijapranata

Read More

Mengatur Stres dikala #WorkfromHome: Kunci Lawan Corona

Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta memperpanjang masa tanggap darurat Covid-19. Melansir sejumlah media, Gubernur Anies Rasyid Baswedan, secara resmi menghimbau agar perusahan di Ibu Kota agar memperpanjang masa pemberlakukan bekerja dari rumah (work from home) yang awalnya sampai 5 April kini menjadi 19 April 2020. Pembatasan mobilitas masyarakat dilakukan demi menekan angka penyebaran virus corona. Seperti kita ketahui bersama, Jakarta menjadi episentrum kota di Indonesia dengan jumlah kasus pasien positif terbanyak.

Keputusan pemerintah pusat untuk memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) beberapa waktu lalu juga makin memperkuat alasan bagi kita untuk tidak keluar rumah jika tidak benar-benar dibutuhkan. Ini demi keselamatan dan kesehatan bersama.

“Untuk mengatasi dampak wabah tersebut, saya telah memutuskan dalam rapat kabinet bahwa opsi yang kita pilih adalah pembatasan sosial berskala besar,” ujar Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020).

Kebijakan ini tak ayal membuat karyawan yang biasanya beraktifitas di Jakarta harus ikhlas menahan diri untuk tetap berada dirumah. Namun langkah physical distancing dengan pemberlakukan masa kerja di rumah ternyata menimbulkan masalah lain. Belakangan ramai anggota masyarakat yang masih sehat mengaku mengalami gangguan kesehatan mental. Suatu hal yang mungkin tidak banyak dibicarakan khalayak, atau malah malu sehingga dihindari oleh sebagian orang untuk dibahas.

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan sejumlah organisasi layanan psikolgi di Jakarta, sejak pekan lalu membuka layanan konsultasi gratis bagi mereka yang merasa mengalami ganggun kesehatan mental seperti stress selama masa isolasi ini. Jumlah orang yang menghubungi untuk mendapatkan layanan konseling makin hari semakin banyak. Orang yang mehubungi untuk mendapatkan koseling pun cukup beragam. Keluhan stress umumnya banyak dirasakan oleh pria-wanita dari dewasa muda hingga lansia, dengan rentang usia 20an sampau 76 tahun.

“Keluhan pasien yang datang beragam. Biasanya ada takut terpapar (corona), khawatir berlebihan hingga merasa jangan-jangan sudah tertular, dan bahkan kangen teman kerja,” tutur Zahrasari Lukita Dewi, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Aya (sapaan Zahrasari) mengungkapkan mayoritas pasien yang ia tangani adalah pekerja kantor dan mahasasiswa. Umumnya mereka yang tinggal sendiri atau jauh dari keluarga. Menurutnya, mereka ini biasanya menjadikan rutinitas dan tempat kerja mereka sebagai pengalihan untuk mengobati kesendirian mereka.

Namun tidak sedikit juga yang mengaku jenuh karena terjebak pada rutinitas yang membosankan, ruang gerak yang sama dan terus bertemu dengan orang yang sama. Dalam kasus tertentu, WFH juga memparah kondisi seorang yang sejak awal sudah mengalami gangguan kesehatan mental.

“Jaga diri dan orang-orang yang kita kenal, baik secara fisik dan mental. Stres boleh dialami oleh setiap orang dan wajar, tapi yang perlu diingat kalau stress harus diatur dengan baik. Stress berlebih akan sangat menguras energi. Padahal tubuh membutuhkan antibodi dibutuhkan untuk melawan virus,” ujar Aya

Aya merekomendasikan untuk atur waktu dengan kegiatan yang produktif dan konstruktif. Terbuka dengan kondisi diri jika mengalami kebosanan atau stress. Aya menyebut ini merupakan saat yang tepat untuk merekoleksi diri sendiri dengan memperhatikan apa yang diri kita butuhkan setelah selama ini terfokus dengan ragam kegiatan.

Tujuan utama dari konseling yang diberikan oleh HIMPSI adalah untuk membantu rekan-rekan yang harus bekerja, atau belajar, dari rumah agar dapat tetap melakukakan kegiatan mereka secara produktif dan meredakan rasa stress. Konseling tidak hanya berhenti sampai setelah sesi berakhir tapi dilakukan follow up untuk melihat keberhasilan sesi konseling sebelumnya dan apakah pasien membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

 

Physical Distancing: the new normal

Dra. Eunike Sri Tyas Suci, PhD, Psikolog., sebut bahwa kini adalah fenomena baru yang disebut the new normal. Pada pekan yang akan datang diprediksikan kalau masyarakat akan mengembangkan tren baru dimana orang sudah mulai “beradaptasi” dengan pola rutin #stayathome yang sudah hampir satu bulan terkahir dijalani.

“Dengan adanya Covid-19 kita mencoba untuk beradaptasi dengan kewajaran baru (new normal. Sebelumnya ketika bertemu orang normal untuk saling bersalaman kini normalnyatidak salaman,” ujar dosen Magister Psikolog Unika Atma Jaya ini.

“Setelah hampir empat minggu ini harusnya masyarkat sudah mulai dengan terbiasa dengan kebiasaan dan norma baru. Saya melihat bahwa kita mengikuti sebuah transisi baru prilaku masyarakat kita, yang awalnya panik luar biasa sekarang masuk minggu kelima terbiasa dengan tren yang begitu saja. Saya berharap sekarang ini keluarga-keluarga sudah mulai teradaptasi dengan gaya hidup baru ini, stay at home ini,” jelas Tyas yang juga Ketua Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia.

Mengenai budaya kumpul-kumpul dan bersosialisasi yang kental dalam masayarkat Indonesia, Tyas sebut kalau hal itu normal karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial dan hal ini dialami oleh tiap kelompok masyarkat,

“Secara psikologis umur remaja dan remaja akhir, kecendrungan untuk ingin bersama-sama dengan peer groupnya dan itu normal dan kalau harus di rumah pasti stress sekali. Siapa dan dari belahan dunia mana pun kita berasal, manusia adalah social being yang perlu dan selalu ingin untuk berinteraksi. Ini akan memang menjadi tantangan tersendiri”

Tyas memang mengakui kalau kondisi sekarang sangat berpotensi untuk memicu tekanan kesehatan mental. Untuk itu Tyas sangat merekomendasikan agar seorang tetap terhubung dengan rekan, keluaraga, teman dari lingkungan pergaulan kita. Merangkum anjuran yang dikeluaran Association Psychology American dan American Psychiatric Association, Tyas merekomendasikan beberapa hal sederhana agar seseorang terhindar dari stress selama masa #WFH dan memberikan energi:

 

  1. Stay connected. Tetap terkoneksi secara sosial dengan teman-temen. Gawai kini amat memudahkan manusia modern untuk terhubung dengan sesamanya. Bangun komunikasi untuk mendiskusikan hal-hal baik dan membangun energi dan tidak melulu mengenai pademi.
  2. Batasi informasi mengenai corona. Paparan informasi yang tiap saat membanjiri group WhatsApp sering membuat kita tidak lagi bisa memilah masa berita yang benar sehingga membuat kita menjadi stress dan cemas. Tyas merekomendasikan kita untuk pilah berita dari paltfom berita tertentu dan batasi waktu konsumsi berita. Cukup dua kali dalam satu hari.
  3. Ikuti saran dari WHO.

Tyas menilai kalau situasi ini menjadi suatu kesempatan yang baik bagi keluarga di Indonesia. Budaya komunal, atau budaya bersama-sama, yang kental dalam keluaraga dan masyarakat Indonesia seharusnya membuat kita tidak kesulitan untuk tetap kerasan untuk tetap tinggal di rumah dan berinteraksi dengan keluaraga.

“Saya berharap dengan budaya komunal menjadi kekuatan untuk keluarga Indonesia untuk bisa tetap di rumah,” tutup Tyas.

Bagi Tyas ini menjadi suatu kesempatan baik untuk memperbaiki hubungan keluarga yang mungkin sempat memudar atau renggang karena mobilitas harian yang tinggi, khususnya bagi keluarga di kota metropolitan.

Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya juga membuka layanan konseling online khusus pandemic Covid-19 dengan menghubungi alamat surel layananpsi.fp@atmajaya.ac.id atau melalui WA ke 0812 986 91914 setiap hari kerja mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB (HCR)

Read More

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan, agar Pembelajaran Daring menjadi Positif dan Menyenangkan di PMLP Unika

Kegiatan pembelajaran daring yang sudah dijalani selama satu bulan, tampaknya mulai diadaptasi oleh para mahasiswa. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pembelajaran daring mau atau tidak mau memang harus dijalani untuk memutus mata rantai pandemi virus Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia.

Hal ini untuk mendukung  imbauan pemerintah agar proses pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi harus dilakukan secara daring, tak terkecuali bagi mahasiswa Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata. PMLP sebelum adanya pandemi Covid-19 ini sudah melaksanakan pembelajaran daring bagi dosen dan mahasiswanya.

Seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Program PMLP Unika Hotmauli Sidabalok SH CN MHum, dalam wawancara singkat di sela-sela kesibukannya dalam melaksanakan pembelajaran daring.

“Pada awalnya sebelum pandemi virus Covid-19, PMLP sudah melaksanakan pembelajaran daring secara regional maupun antar negara atau internasional melalui Skype. Namun dengan mewabahnya virus Covid-19, ditambah adanya pemberlakuan kuliah online di seluruh kampus di Indonesia oleh pemerintah, maka untuk pembelajaran daring, kami menggunakan platform cyber learning yang difasilitasi oleh Unika Soegijapranata,” kata Hotmauli Sidabalok.

Platform  https://cyber.or.id/ digunakan oleh para dosen baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, salah satunya adalah perkuliahan Dr Datuk Ary Adriansyah Samsura yang melaksanakan pembelajaran daring dari Radboud Universiteit Nijmegen Belanda.

Dr Datuk Ary Adriansyah Samsura yang merupakan salah satu dosen PMLP Unika Soegijapranata juga mengajar di Radboud Universiteit Belanda, maka pembelajaran daring menjadi solusi dalam pelaksanaan kuliah online bagi mahasiswa PMLP, imbuhnya.

“Jadi kami tetap menjaga penuh pertanggungjawaban terhadap mahasiswa, baik menjamin kuantitas minimal perkuliahan dan kualitas. Kewajiban Dosen untuk melakukan tatap muka minimal 14 kali tetap terpenuhi. Platform ini pun membantu menjamin kualitas pertemuan. Platform Cyber Unika Soegijapranata memberikan ruang yang sangat luas bagi mahasiswa untuk bertanya dan berdiskusi, seringkali menurut pengakuan mereka,  waktu perkuliahan melebihi dari jadwal yang biasanya ditentukan,” ujar Hotmauli Sidabalok.

Menanggapi pembelajaran daring yang dilakukan oleh PMLP Unika, salah satu mahasiwinya yang bernama Dewi Kartika Maharani Praswida saat ditanya tentang pembelajaran daring yang dijalaninya, Ia mengemukakan pendapatnya,

“Kuliah online khususnya yang berlangsung di PMLP cukup efektif apalagi dengan menggunakan video dengan Big Blue Button itu lebih memperjelas lagi, ditambah dengan bahan ajar yang mudah dipahami, keterbukaan dan kesiapsediaan dosen untuk dimintai penjelasan bahkan di luar jam kuliah, serta tugas kuliah yang bukan membuat stres namun malah semakin menambah wawasan,” ucap Dewi.

Mengenai perkuliahan online dengan Dr Datuk Ary Adriansyah Samsura, terus terang untuk semester ini saya baru pertama kali mengikuti perkuliahan dengan beliau dan sangat menyenangkan, beliau sangat terbuka, aktif dan menerima setiap argumen tanpa penghakiman sekalipun pendapat mahasiswanya kadang out of topic, sambungnya.

Maka bagi saya sebetulnya ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam mengikuti pembelajaran daring supaya lebih menyenangkan dan memberikan efek positif bagi mahasiswa, yaitu (1) dalam menjalani kuliah online kita harus fokus, saat pembelajaran jangan disambi dengan kegiatan lain-lain yang memecahkan konsentrasi, (2) selain itu buatlah daftar tugas-tugas beserta due date  atau batas waktunya secara jelas, dan (3) buatlah target-target penyelesaiannya agar tidak terbengkalai, tutupnya. (FAS)

 

 

Read More