Perjalanan 40 tahun membangun ekosistem pendidikan tinggi Katolik di Indonesia
Empat perguruan tinggi Katolik bergabung pada 24 Februari 1984 membentuk APTIK, menggantikan YKPTK dan MPTK sebagai wadah kolaborasi perguruan tinggi Katolik se-Indonesia.
APTIK berkembang pesat dengan menyambut enam perguruan tinggi dari berbagai penjuru Nusantara, dari Medan hingga Makassar.
Yayasan Widya Mandala Madiun resmi menjadi anggota APTIK, memperluas jangkauan ke Jawa Timur bagian barat.
Yayasan Musi, Palembang menjadi anggota, membawa APTIK hadir di Sumatra Selatan.
STIK Sint Carolus Jakarta bergabung, menandai masuknya institusi pendidikan kesehatan Katolik ke dalam keluarga besar APTIK.
APTIK memperluas wilayah ke Manado dan Pontianak dengan menerima tiga anggota baru sekaligus.
Yayasan Darma Cendika Surabaya bergabung, memperkuat kehadiran APTIK di kota Pahlawan.
APTIK menerima STIK Stella Maris Makassar dan STIKes Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya sebagai anggota biasa, serta STKIP Weetebula sebagai anggota kerabat pertama.
Widya Mandala Madiun bergabung ke Widya Mandala Surabaya. STMIK dan STIE Widya Dharma Pontianak menjadi satu universitas. STIKes Santa Elisabeth Medan dan STIKes Santo Borromeus diterima sebagai anggota kerabat.
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Weetebula resmi naik dari anggota kerabat menjadi anggota biasa APTIK.
Pada 21–22 Maret 2024, APTIK kembali tumbuh dengan menerima empat anggota baru dalam Kongres ke-41, memperkukuh posisinya sebagai rumah besar pendidikan tinggi Katolik Indonesia.
Periode 1984 – 2029 · Klik tahun untuk melihat susunan pengurus tiap periode