Berita & Peristiwa

Seminar Dan Bedah Buku “Pancasila Sebagai Orientasi Mewujudkan Peradaban Kasih”

Unit Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MPK UAJY) menyelenggarakan seminar dengan topik, “Pancasila Sebagai Orientasi Mewujudkan Peradaban Kasih”. Acara dilaksanakan pada Jumat (11/5) di Auditorium Kampus II Gedung Thomas Aquinas UAJY. Seminar ini dilaksanakan bekerja sama dengan Percetakan Kanisius, Yogyakarta.

Seminar yang didahului acara Peluncuran Buku “Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman Katolik” ini dibuka oleh Rektor UAJY, Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH LL.M. Sebelum acara seminar dimulai para peserta meneriakkan “Salam Pancasila” dengan mengangkat lima jari ke atas. Adapun narasumber seminar ini adalah Yudi Latif, MA. Ph.D (Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Kardinal Julius Darmaatmaja, SJ, Methodius Kusumahadi (Satunama Foundation Yogyakarta) dan Dr. B. Wibowo Suliantoro, M.Hum (Dosen MPK UAJY).

2

Dalam sambutan sekaligus pembukaan seminar ini Rektor UAJY menegaskan bahwa Pancasila merupakan buah pikiran yang sangat brilian dari para founding fathers kita yang akan tetap relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sampai kapan pun.

“UAJY akan menjadi garda terdepan dalam mempertahankan Pancasila di tengah dahsyatnya gempuran gelombang radikalisme dan penolakan terhadap kebhinekaan,” pungkasnya.

Yudi Latif dalam presentasinya mengenai “Telaah Kritis Hubungan Agama dan Pancasila” mengungkapkan bahwa ideologi Pancasila dan agama merupakan dua institusi yang berkontribusi dalam menentukan peradaban.

“Titik temu antara Pancasila dan Agama bertumpu pada ajaran tentang cinta kasih. Pancasila pada hakikatnya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai agama yang diyakini dan dijunjung tinggi oleh setiap orang beradab,” demikian paparnya.

1

Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ menyampaikan materi tentang “Menjadi Warga Negara 100% Katolik, 100% Pancasilais. Dalam presentasinya Kardinal menguraikan bahwa “Pancasila dapat menjadi orientasi, kerangka acuan untuk membangun budaya kasih. Dalam pelaksanaannya, cita-cita tersebut masih terkendala oleh beberapa hal, antara lain belum semua mampu secara konsekuen memandang sesama warga bangsa adalah saudara yang memiliki martabat dan hak-hak yang sama. Ketidakmampuan sementara orang untuk berlaku adil, jujur, dan tulus dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Mereka yang memiliki posisi cenderung bersekongkol dengan mereka yang seharusnya mengawasi” demikian uraiannya.

3

Lainnya: