Berita & Peristiwa

Forum Studi Komunikasi, Membawa Etnografi Dari Kelas Ke Lapangan

Senin, 30 Oktober 2017, Forum Studi Komunikasi (FSK) menyelenggarakan sebuah diskusi dengan tema ‘Etnografi dan Relevansinya dengan Ilmu Komunikasi: Membawa Etnografi dari Kelas ke Lapangan’. Diksusi ini melibatkan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mengundang Marinta Serina Singarimbun, I Dewa Ayu Dewi Ratna Diani Bandjar, dan Y. Argo Twikromo sebagai pembicara.

IMG_0051

Dalam diskusi, Marinta dan Ratna membagikan pengalamannya selama 15 tahun menyusun sebuah memoar yang diberi judul ‘Mata Jiwa: Into the Eye of Life’. Buku foto ini merupakan sebuah buku yang mendokumentasikan tentang budaya sebuah desa adat di Bali, Tanganan Panggringsingan. Jalan masuk ke budaya masyarakat Tanganan adalah melalui kain dobel ikat yang menjadi kain khas desa tersebut.

“Sebenarnya ini adalah buku tentang kain Gringsing, buku tekstil yang dikaitkan dengan beberapa aspek kehidupan, tradisi kuliner, tradisi musik mereka, tradisi tarian mereka,yang lebih untuk menyentuh jiwa manusia” ujar Marinta saat menjelaskan isi bukunya.

IMG_0073

Dalam proses penyusunan buku tersebut, Marinta mengemukakan bahwa prosesnya tidak selalu mulus. Beberapa kali ia merasa gagal karena tidak memahami penjelasan yang dikemukakan masyarakat di desa Tanganan. Sampai pada satu titik Marinta memutuskan untuk lebih banyak mendengar ketimbang mencatat, memperhatikan ekspresi penduduk, memperhatikan sekeliling dan menelusuri pengalaman batin di sana. Menelusuri pengalaman batin ini yang juga membuat Marinta memutuskan untuk membuat buku prosa liris, berisi lebih sedikit tulisan dan lebih banyak gambar.

IMG_0030

Proses perjalanan penelitian Marinta dan buku Mata Jiwa diberi penegasan oleh Y. Argo Twikromo, dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY. Argo mengemukakan bahwa seorang peneliti etnografi harus membuka seluruh panca inderanya untuk menangkap pengalaman masyarakat, bahkan hingga pengalaman batin bersama masyarakat. Ketika melaksanakan etnografi, tidak dapat dipungkiri bahwa mendekati elit masyarakat akan mempermudah proses seorang peneliti untuk melakukan pendekatan dengan subjek penelitiannya, tetapi yang perlu diingat adalah bahwa proses etnografi menempatkan porsi pendekatan yang lebih besar pada masyarakatnya. Hal ini bertujuan agar  hasil penelitian etnografi tidak normatif. Argo juga menekankan bahwa kepekaan peneliti dan kemauan peneliti untuk belajar dari masyarakat menjadi kunci dalam melaksanakan penelitian etnografi.

Lainnya: