Berita & Peristiwa

Lestarikan Budaya, UAJY Gelar Jathilan

Jathilan merupakan tarian tradisional berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan pemain menaiki kuda lumping dan diiringi musik gamelan. Seiring perkembangan zaman, jathilan mulai kurang populer di daerah perkotaan. Oleh sebab itu, dalam rangka Dies Natalis ke 52 dan untuk melestarikan kesenian daerah, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan pertunjukan jathilan untuk pertama kalinya pada Senin (25/9). Acara yang berlangsung di halaman Kampus 2 Gedung Thomas Aquinas ini terbuka untuk umum dan dimeriahkan oleh Kelompok Jathilan Mardi Raharjo.

“Jathilan merupakan warisan leluhur yang dapat terkikis oleh zaman oleh sebab itu universitas berperan untuk melestarikannya,” jelas Yustinus Jemingan yang merupakan panitia acara sekaligus penari jathilan.

Dalam acara tersebut, beberapa pegawai UAJY turut tampil menarikan tarian jathilan. Bahkan di akhir acara, H. Andre Purwanugraha, S.E., M.B.A. yang merupakan Wakil Rektor II UAJY mencoba ikut menari jathilan bersama pemain lainnya.

Untuk menarik minat mahasiswa dan masyarakat sekitar, jathilan yang ditampilkan diiringi gamelan yang memainkan lagu-lagu berbahasa Indonesia dan lagu berbahasa Jawa yang sudah terkenal masyarakat umum. Selain itu, terdapat tarian angguk yang dibawakan oleh penari wanita dengan memakai kaca mata hitam.

“Jathilan diinovasi supaya mahasiswa dan masyarakat tertarik menonton jathilan. Selama ini pertunjukan jathilan dianggap menyeramkan sehingga banyak orang tidak suka menonton jathilan. Mereka takut saat melihat pemain jathilan kerasukan lalu memakan kaca. Oleh sebab itu, jathilan yang disuguhkan UAJY tidak ada pertunjukan memakan kaca,” ujar Jemingan.

IMG_9347

Pertunjukan jathilan dibagi menjadi dua babak. Babak pertama dimainkan oleh perempuan. Mereka memainkan jathilan dengan jalan cerita Gagrak Suminten Edan. Gagrak Suminten bercerita mengenai Suminten yang merupakan gadis anak petani yang tidak jadi menikah dengan Pangeran, yaitu Raden Mas Subroto. Batalnya pernikahan tersebut membuat Suminten sakit dan gila. Mengetahui hal tersebut akhirnya Raden Mas Subroto menjadikan Suminten istri kedua. Babak kedua dimainkan oleh pemain laki-laki. Pada babak ini, diceritakan kisah Gagak Rimang. Kisah ini bercerita mengenai pertarungan Sultan Demak ke 5 yaitu Aryo Penangsang melawan Sutawijaya.

Lainnya: