Berita & Peristiwa

Pengembangan Kurikulum S1, S2, dan S3 Program-Program Studi PT APTIK Secara Bersama

 

PENGEMBANGAN KURIKULUM S1, S2, DAN S3

PROGRAM-PROGRAM STUDI PT APTIK SECARA BERSAMA

Rm. Dr. Ir. P. Wiryono P.,SJ., Koordinator JAKA-APTIK

Disampaikan sebagai bahan Hari Studi APTIK tanggal 23 - 24 Nopember 2007

PENDAHULUAN

He who lets the world, or his own portion of it, choose his plan of life, has no need of any other faculty than the ape-like one of imitation. He who chooses his plan for himself, employs all his faculties. He must use observation to see, reasoning and judgment to foresee, activity to gather materials for decisions, discrimination to decide, and when he has decided, firmness and self-control to hold his deliberate decision. (John Stuart Mill, On Liberty, 1859).

Dengan merenungkan apa yang mau dipesankan oleh John Stuart Mill lewat kutipan di atas, marilah kita memasuki wilayah permasalahan yang mau kita jadikan bahan diskusi bersama. Wilayah permasalahan sekitar pengembangan kurikulum dapatlah dirumuskan secara sederhana sbb :  Sebuah paradigma baru pendidikan tinggi telah ditawarkan di Indonesia oleh banyak pihak. Tawaran ini telah pula disambut baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Dalam perspektif paradigma baru pendidikan tinggi, kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari tiga komponen penting yang sering disebut-sebut yakni : kelembagaan, manajemen, dan kurikulum. Ketiga komponen penting ini diharapkan bisa diperbaharui secara terus menerus sehingga masyarakat akademik perguruan tinggi terbantu dalam usaha menjawab tantangan-tantangan baru akibat terjadinya perubahan-perubahan global  di bidang ekonomi, politik, dan budaya saat ini (HELTS 2003-2010, Azyumardi Azra, 2004, Mohammad Fakry Gaffar, 2004, Mochtar Buchori, 2004 ).

Tantangan-tantangan baru terkait dengan komponen kelembagaan menyangkut a.l.: otonomi kelembagaan, demokratisasi, kesehatan organisasi, dan penciptaan daya saing. Tantangan-tantangan baru terkait dengan komponen manajemen meliputi : penjaminan mutu, pemanfaatan ICT, dan penerapan prinsip-prinsip good governance seperti : transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kemandirian, dll. Sementara yang terkait dengan kurikulum meliputi : pengembangan knowledge-based society, pemenuhan HAM, pelestarian lingkungan, penegakan keadilan, budaya dialog, multikulturalisme, pengembangan softskills mahasiswa, penanaman nilai-nilai kebangsaan, peningkatan kemampuan belajar, dll.

Permasalahan yang layak dijadikan bahan diskusi bersama dalam hari studi APTIK di Semarang tgl 23-24 Nopember 2007 saat ini adalah : Bagaimana APTIK mau mensikapi tawaran paradigma baru dengan berbagai implikasi khususnya terkait dengan pengembangan kurikulum di tingkat Perguruan Tinggi? Dari diskusi bersama perihal permasalahan pengembangan kurikulum S1, S2, dan S2 program-program studi yang dimiliki perguruan tinggi anggota APTIK diharapkan akan lahir sejumlah rekomendasi yang pantas diajukan ke RUA APTIK y.a.d. sebagai bahan pembahasan lanjutan  atau bahan perencanaan program kerja ke depan APTIK.

KURIKULUM DAN PENGEMBANGANNYA

Apa yang dimaksudkan dengan kurikulum? UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 19 mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Perlu diwaspadai adanya dua kata tujuan yang dipakai dalam definisi ini. Kata tujuan yang pertama dimaksudkan untuk menunjuk secara khusus kepada hasil atau pencapaian dari suatu kegiatan pembelajaran. Dimaksud sebagai serangkaian sasaran-sasaran pembelajaran. Sementara kata tujuan yang kedua menunjuk kepada  “goalâ€, cita-cita, atau gambaran ideal yang perlu diperjuangkan bersama secara terus menerus melalui kegiatan pendidikan. Gambaran ideal yang dimaksud bisa dikaitkan dengan keadaan kehidupan bersama yang lebih baik, profil masyarakat yang memiliki ciri-ciri khusus, atau gambaran manusia konkrit yang dirindukan.

Karena kita mau membahas perihal kurikulum program studi S1, S2, dan S3, kita harus memasuki wilayah pendidikan tinggi. Di wilayah ini kurikulum didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di peruguran tinggi. Definisi ini diambil dari peraturan pemerintah yakni  Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, Pasal 6 Butir 1.  Dalam definisi ini kata tujuan sama sekali tidak disebutkan. Aneh sebetulnya. Seharunya disebutkan. Dalam pemahaman umum tentang kurikulum, tujuan merupakan komponen penting. Inilah yang bisa disimpulkan dari pemahaman kurikulum sebagaimana dikembangkan oleh Mochtar Buchori yang menyebutkan tiga gambaran tentang kurikulum. Pertama, kurikulum bisa digambarkan sebagai tempat berpacu  di mana siswa atau mahasiswa dibimbing untuk bisa berlari cepat ke arah sasaran-sasaran tertentu. Kedua, kurikulum bisa digambarkan sebagai jembatan melalui mana siswa atau mahasiswa dibantu  menyeberangi rintangan-rintangan untuk bisa mencapai daerah seberang sana. Ketiga, kurikulum bisa digambarkan sebagai suatu cetak biru (blue print) tentang sosok manusia yang diharapkan akan tumbuh dalam diri siswa atau mahasiswa setelah menjalani seluruh proses pendidikan yang dirancang secara khusus.

Pengembangan kurikulum merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Inggris : curriculum development. Dibedakan dari kata lain yang berdekatan artinya yakni curriculum design (= perancangan kurikulum). Pengembangan kurikulum memiliki kerangka pengertian lebih luas. Di dalamnya terkandung kegiatan-kegiatan menyangkut 4 tahapan : 1)orientasi menyangkut : tujuan pendidikan, konsep pelaku didik, peranan pendidik, konsep belajar, kondisi bangsa, dll, 2) pengembangan meliputi : usaha menjawab tantangan, mengkonstruksi perubahan, meningkatkan kurikulum yang sudah ada, menyusun rencana, mengusahakan pemutakhiran, dll 3) implementasi atas rencana-rencana, serta 4) evaluasi atas seluruh rencana serta implementasinya dalam satuan waktu yang lebih panjang.  Sementara perancangan kurikulum mencakup pengertian lebih spesifik dan lebih teknis meliputi : cara memenuhi tujuan, memilih isi/bahan, menciptakan pengalaman, mengorganisir isi/bahan, memilih media/alat bantu, dan melakukan evaluasi atas hasil proses belajar. Dapat diibaratkan, pengembangan kurikulum itu orkesnya sementara perancangan kurikulum adalah permainan alat-alat musiknya. Sang dirigen dan para pemain alat musik perlu memiliki wawasan, pemahaman, serta gerak sama terkait dengan musik yang mau dimainkan. Agar dihasilkan musik yang kompak serta indah perlu adanya kerjasama yang kokoh antara sang dirigen dan para pemain.

Tulisan ini sengaja memilih pengertian pengembangan kurikulum seperti diuraikan oleh William H. Schubert (1987). Pengembangan kurikulum di tingkat perguruan tinggi merupakan suatu proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan diajarkan kepada dan dipelajari oleh mahasiswa yang dilengkapi dengan seluruh pertimbangan yang mendasarinya. Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari keputusan biasanya menjangkau aspek-aspek kehidupan bangsa yang luas sekaligus dinamis meliputi : sejarah, filsafat, budaya, politik, psikologi, dan ekonominya. Dikatakan dinamis karena aspek-aspek ini selalu mengalami perubahan seiring dengan terjadinya perubahan-perubahan di tingkat masyarakat yang lebih luas katakan masyarakat global. Yang menarik dari pengertian pengembangan kurikulum menurut tokoh ini adalah bahwa semua pelaku (pimpinan perguruan tinggi, senat, dosen, mahasiswa) yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan perlu diperhitungkan secara khusus. Apa yang perlu diperhitungkan secara khusus?  Yang perlu diperhitungkan secara khusus dari para pelaku adalah : wawasan tentang dunia, visi tentang pendidikan, pengalaman mendidik dan dididik yang telah dimiliki, model-model pendekatan yang pernah dikembangkan, sumber belajar yang dikuasai, tenaga serta waktu yang tersedia,  dana yang bisa digunakan, mitra yang bisa diajak kerjasama, dll. Pendek kata pengembangan kurikulum haruslah bersifat realistik atau berdasar pada kenyataan yang ada.

Pembaharuan kurikulum (curriculum improvement) merupakan bagian dari pengembangan kurikulum. Pembaharuan kurikulum bahkan bisa dijadikan tujuan dari pengembangan kurikulum. Ada dua pendekatan yang dipakai dalam kaitan dengan pembaharuan kurikulum yakni pendekatan top-down (dari atas ke bawah) dan pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas). Dalam konteks Indonesia, kendati perancangannya selalu melibatkan kalangan ahli dari lapangan dan sebelum diterapkan secara menyeluruh dilakukan uji coba, namun pendekatan yang diterapkan cenderung bersifat top-down. Hasil perancangan yang telah diujicoba biasanya langsung dimaklumkan sebagai kurikulum baru yang wajib dilaksanakan secara nasional. Mengingat situasi Indonesia yang begitu luas wilayahnya, beragam kondisi sosial budayanya, dan berbeda tingkat pendidikan penduduknya antara wilayah satu dengan wilayah lainnya, pendekatan top-down memang mempercepat proses namun sangat miskin dilihat dari segi daya gerak atau dinamika pengembangannya di lapangan. Hal ini selayaknya bisa dijadikan tantangan bagi APTIK untuk bisa menciptakan sebuah proses pembaharuan atau pengembangan kurikulum yang mengedepankan pendekatan bottom-up. Saat ini pendekatan terakhir bisa dikatakan belum pernah dilakukan. Mengapa APTIK tidak tertarik untuk mencobanya?

KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG PANTAS DIPERJUANGKAN BERSAMA

Ada berbagai kepentingan yang pantas diperjuangkan  melalui pengembangan kurikulum. Kepentingan-kepentingan tersebut bisa diperjuangkan sendiri-sendiri oleh masing-masing perguruan tinggi, bisa pula diperjuangkan secara bersama-sama. Bagi perguruan tinggi anggota APTIK kiranya banyak kepentingan yang bisa diperjuangkan bersama melalui program  pengembangan kurikulum yang diselenggarakan setiap 4-5 tahun sekali sesuai dengan kesepakatan bersama. Di bawah ini disampaikan sebanyak 7 macam kepentingan yang pantas diperjuangkan bersama oleh perguruan tinggi anggota APTIK melalui program pengembangan kurikulum yang diselenggarakan secara periodik atau rutin.

1. Pemberian Makna Penuh Pada Kehidupan Manusia

 Kepentingan ini tertuang dalam Konstitusi Apostolik Tentang Universitas Katolik dari Paus Yohanes Paulus II (1991). Merupakan kepentingan abadi Gereja dan masyarakat dunia. Melalui pengembangan kurikulum Universitas Katolik diharapkan mampu memperbaiki secara terus menerus cara mengkomunikasikan kepada masyarakat prinsip-prinsip etis dan religius yang memberikan makna penuh pada kehidupan manusia. Gereja meyakini bahwa hanya dalam perspektif pemaknaan penuh kehidupan manusia, permasalahan kehidupan manusia di dunia bisa dipecahkan secara benar.

2. Up-dating dan Peningkatan Relevansi.

Dalam kasus USD, masing-masing program studi telah terbiasa melakukan pembaharuan kurikulum setiap 4-5 tahun sekali. Ini dimaksudkan untuk menanggapi kepentingan akreditasi sekaligus pesan-pesan yang tersirat dalam dokumen-dokumen Serikat Jesus perihal penyelenggaraan lembaga-lembaga pendidikannya. Ignatius Loyola selaku pendiri Ordo Serikat Jesus dan pembangun kolese-kolese Jesuit pertama di Eropa menekankan pentingnya pengembangan kurikulum secara terus menerus agar kurikulum yang diberlakukan di lembaga-lembaga pendidikan Jesuit selalu up to date, relevant dan sesuai dengan kebutuhan jaman yang mekar terus.

3. Pembaharuan Pendidikan Bagi Kelahiran Generasi Pembaharu

Menyadari situasi kehidupan bangsa Indonesia yang sangat mengkhawatirkan saat ini, Mochtar Buchori menyatakan perlunya  pembaharuan  kurikulum  pendidikan Indonesia saat ini. Kurikulum baru hasil pembaharuan diharapkan bisa membantu kelahiran generasi pembaharu yakni generasi yang mampu memperbaharui cara hidup sebagai bangsa. Untuk ini kurikulum baru diharapkan lebih mengarah kepada pendidikan nilai-nilai dan bukan penguasaan pengetahuan semata-mata. Kurikulum baru jenis ini agar memiliki kekuatan atau daya gerak yang diperlukan, haruslah didasarkan pada hasil pencarian serta pemikiran bersama yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Tidak mungkin dipercayakan sepenuhnya kepada pemerintah.

4. Peningkatan Kemampuan Memecahkan Masalah dan Kemampuan melakukan Transformasi Pribadi dan Sosial Kemasyarakatan

Kepentingan ini banyak diperjuangkan terutama oleh para pendukung pengembangan kurikulum Model Transisi dan Model Transformasi. Di dalam dua model ini siswa atau mahasiswa diposisikan sebagai individu yang mampu memecahkan masalah, mengelola perkembangan dirinya, dan menggerakkan transformasi sosial di tengah masyarakatnya. Pengembangan kurikulum dalam dua model ini dimaksudkan untuk meningkatkan lebih jauh kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa atau mahasiswa tersebut4.

5. Penanaman Nilai-Nilai Kebangsaan Demi Integritas dan Eksistensi Bangsa

Kepentingan ini sering disuarakan oleh para tokoh pendidikan di Indonesia yang prihatin terhadap situasi keterpurukan bangsa Indonesia dalam berhadapan dengan ancaman-ancaman globalisasi. Kepentingan ini dirasa mendesak untuk bisa diperjuangkan kembali lewat pembaharuan pendidikan. Terkait dengan pengembangan kurikulumnya, perlulah kurikulum diarahkan kepada usaha membangkitkan kembali nasionalisme Indonesia, toleransi kelompok, penghormatan atas hukum, kedisiplinan, cara hidup demokratis, penghargaan atas karya bangsa sendiri,  pengedepanan kesejahteraan bersama, penghargaan akan keanekaragaman, dll.

6. Pengembangan Karakter Mahasiswa

Pertemuan JAKA APTIK di Sangkal Putung, Klaten, tanggal 30 Agustus  1 September 2007 yang disatukan dengan penyelenggaraan Training for Trainers bertemakan Pengembangan Karakter Mahasiswa telah menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan program pengembangan karakter mahasiswa di masing-masing Perguruan Tinggi APTIK. Berbagai model pengembangan karakter ditawarkan baik yang bersifat kurikuler, co-kurikuler, maupun extra kurikuler. Kendati telah dirasakan kepentingannya, belum dibahas secara lebih lanjut dalam pertemuan di Klaten perihal pengembangan kurikulum yang mengarah kepada pengembangan karakter mahasiswa. Yang perlu dicatat di sini adalah bahwa kepentingan ini telah menjadi concern JAKA APTIK.

7. Pengadopsian Kurikulum Berstandar Internasional

Dalam Seminar di Surabaya tanggal 31 Agustus 2006 dengan tema: Peran Pendidikan Tinggi Teknik Dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa, Dirjen Dikti menyarankan agar Perguruan Tinggi di Indonesia menggunakan kurikulum yang terakreditasi oleh lembaga internasional untuk bisa meningkatkan daya saing bangsa. Dalam lokakarya-lokakarya yang diselenggarakan Dikti seperti “The Workshop od International Education†di Hotel The Atlet Century Park, Jakarta, tanggal 8-9 November 2006 dan  The Development of Model of International People Mobility Among Universities  di  Hotel  Sahid  Raya  Bali, Denpasar, tanggal 31 Oktober  1 November 2007, Dikti menyampaikan saran yang sama. Pengadopsian kurikulum berstandar internasional menjadi bagian dari usaha peningkatan daya saing bangsa.

 

KESIMPULAN: EMPAT PERTANYAAN DISKUSI

Mengingat tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar diskusi, maka wajarlah kalau kesimpulan mengambil bentuk rumusan pertanyaan. Ada empat rumusan pertanyaan diskusi yang ingin disampaikan penulis terkait dengan permasalahan sebagaimana dirumuskan di depan yakni : Bagaimana APTIK mau mensikapi tawaran paradigma baru dengan berbagai implikasi khususnya terkait dengan pengembangan kurikulum di tingkat Perguruan Tinggi?. Keempat pertanyaan diskusi dicoba dirumuskan seperti di bawah ini:

1. Dari berbagai kepentingan yang pantas diperjuangkan lewat pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi (sebagian telah disebutkan dalam tulisan ini), kepentingan-kepentingan mana ingin diprioritaskan  APTIK untuk bisa diperjuangkan bersama?

2. Bagaimana secara kongkrit APTIK mau memperjuangkan bersama kepentingan-kepen-tingan yang diprioritaskan tersebut lewat program pengembangan kurikulum untuk program-program studinya di level S-1, S-2, dan S-3?

3. Perlukah pembentukan suatu tim pengembangan kurikulum APTIK yang secara khusus bertugas melakukan survei lapangan, pemetaan masalah-masalah di lapangan, pemberian masukan-masukan bagi pimpinan berdasarkan hasil survei lapangan, dan pelatihan-pelatihan bagi para pejabat serta dosen yang akan diserahi tanggungjawab melaksanakan pengembangan kurikulum di masing-masing unitnya.

4.Siapa-siapa bisa diharapkan menjadi nara sumber atau fasilitator guna menunjang usaha-usaha APTIK di atas?

Daftar Pustaka

- Azyumardi Azra, Pergeseran Paradigma Pendidikan Indonesia Meresponsi Globalisasi, dlm. Ed.: Ir. Nggandi Katu, M.Sc., Ph.D & Tim, Seminar Nasional Pendidikan Indonesia, Jakarta: Universitas Pelita Harapan, 2004, hlm. 17-27.

- Directorate General of Higher Education Ministry of National Education Republic of Indonesia, Higher Education Long Term Strategy 2003-2010, Jakarta,.

- George Ganss, S.J., Saint Ignatius’ Idea of a Jesuit University, USA: The Marquette University Press, 1956

- Kaber, Achasius, Pengembangan Kurikulum, Jakarta : Dikti – Depdikbud, 1988.

- KOMPAS, Jum’at, 01 September 2006: “Perguruan Tinggi Gunakan Kurikulum Terakreditasi Internasional†(RAZ)

- Mardiatmadja, BS, SJ, Dr., Universitas Dan Pembangunan Bangsa, dlm. Ed.: Ir. Nggandi Katu, M.Sc., Ph.D & Tim, Seminar Nasional Pendidikan Indonesia, Jakarta: Universitas Pelita Harapan, 2004, hlm. 78-127.

- Mohammad Fakry Gaffar, Pergeseran Paradigma Dalam Pembangunan Pendidikan Indonesia Di Masa Depan Untuk Menghadapi Tantangan Global, dlm. Ed.: Ir. Nggandi Katu, M.Sc., Ph.D & Tim, Seminar Nasional Pendidikan Indonesia, Jakarta: Universitas Pelita Harapan, 2004, hlm. 29-42.

- Mochtar Buchori, Kurikulum Untuk Melahirkan Generasi Pembaru, dlm Ed.: Tony D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2004, hlm. 294-297.

- Tilaar, HAR, Prof.Dr. M.Sc, Pembaharuan Pendidikan Indonesia Untuk Mengatasi Keterpurukan Bangsa Di Berbagai Bidang, dlm. Ed.: Ir. Nggandi Katu, M.Sc., Ph.D & Tim, Seminar Nasional Pendidikan Indonesia, Jakarta: Universitas Pelita Harapan, 2004, hlm. 57-69.

- Yohanes Paulus II, Konstitusi Apostolik Tentang Universitas Katolik, Roma 1991.

 

Yogyakarta, 20 Nopember 2007

P. Wiryono P.,SJ., Koordinator JAKA-APTIK

 

1 Baca: Paus Yohanes Paulus II, Konstitusi Apostolik Tentang Universitas Katolik, Roma 1991, hlm. 22-23

2 Baca: George Ganss, SJ., Saint Ignatius Idea of a Jesuit University, USA: The Marquette University Press, 1956, hlm. 110-111.

3 Baca: Mochtar Buchori, Kurikulum Untuk Melahirkan Generasi Pembaru, dlm Ed.: Tony D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2004, hlm. 294-297.

4 Baca: Achasius Kaber, Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Dikti  Depdikbud, 1988, hlm. 80-81

5 Baca: Prof.Dr.HAR Tilaar, M.Sc, Pembaharuan Pendidikan Indonesia Untuk Mengatasi Keterpurukan Bangsa Di Berbagai Bidang, dan  Dr. BS. Mardiatmadja SJ, Universitas Dan Pembangunan Bangsa, dlm. Ed.: Ir. Nggandi Katu, M.Sc., Ph.D. & Tim, Seminar Nasional Pendidikan Indonesia, Jakarta: Universitas Pelita Harapan, 2004.

6 Baca: Perguruan Tinggi Gunakan Kurikulum Terakreditasi Internasional†(RAZ), dlm KOMPAS Jumat, 01 September 2006.

 

Lainnya: